Dua hari yang lalu ramai tentang TLJ yang memajang peraturan tidak melayani kue ucapan hari besar agama lain. Saya jadi teringat kasus 2 tahun lalu, 2017, chocolicious. Bedanya adalah saya ingat waktu itu netizen hanya terdiam (ketenggengen: bahasa Suroboyo-nya) dan cenderung pasrah.

Kasus TLJ ini, netizen bergerak, semangat memerangi ketidakwajaran dalam keberagaman yang sudah ada di Indonesia. Terlepas dari berita sana sini yang belum pasti siapa dalang dan alasannya, tapi berita bagusnya sudah ada kemajuan dari tahun 2017 lalu. Netizen bergerak melawan! Kritisnya netizen ini patut diacungi jempol dan didorong!

Saya jadi teringat pesan DR. Zainul/Mas Inung saat Seminar Indonesia dan Toleransi di UK Petra minggu lalu, “yang waras jangan diam, yang waras jangan mau ngalah!”🇮🇩

Nah, dengan mencuatnya kasus TLJ ini membuat netizen berani dan kritis, diskusi di grup WA dan wall FB, bandingkan info sana sini, termasuk mengkritisi peraturan MUI dalam sertifikasi halal.
Btw pelaku usaha kok diam aja ada peraturan tersebut? kok malah mengikuti ya jika memang tidak sepakat?

Well done netizen! Membantu Indonesia untuk menjaga kewarasan.

Catatan:
Perlu diingat, tujuan netizen bukan untuk memaksa TLJ dan sejenisnya mengubah kebijakan mereka loh karena itu hak mereka kok yang sedang kita lakukan adalah mewartakan saja bahwa TLJ dan sejenisnya mempunyai cara pandang seperti ini. Bagaimana dengan tindakan kita yang punya pandangan berbeda? Kalau saya cukup dengan stop beli produk mereka, boleh dong, bebas juga.

Salam Generasi Optimis,
Sally Azaria